Search This Blog

Saturday, February 18, 2012

Ritual Keleman di Desa Peniwen

Ritual Keleman merupakan suatu ritual yang kini mungkin dapat lebih mudah dipahami sebagai ritual memohon hujan dan syukur atas tanah yang diberi Sang Pencipta bagi warga. Ritual oleh warga Desa Peniwen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Paper ini akan mencoba membahas ritual Keleman dari segi Antropologi Agama. Adapun pembahasan dalam paper akan mencoba mendekati bahasan dari perspektif antropologi; sekalipun nantinya ritual ini sendiri sedikit tidaknya menyangkut pada sisi teologis.

Ritual

Edisi pertama Encyclopaedia Britannica mengatakan bahwa ritual adalah sebuah panduan dan tata cara merayakan upacara-upacara religi, pelayanan dalam gereja, keuskupan dan lain sebagainya. Kita dapat menemui ritual dalam berbagai macam bentuk seperti upacara, liturgi, sihir, dan kombinasi dari semuanya itu.[1] Menurut S.J. Tambiah, ritual secara kebudayaan merupakan salah satu simbol komunikasi. Ritual merupakan gabungan antara kata-kata dan tindakan yang diekspresikan dalam berbagai macam media[2].

Ritual-ritual mempunyai banyak fungsi, baik dalam taraf individu maupun secara komunal. Ritual menghubungkan dan mengeksprsikan perasaan, pedoman dan tindak perilaku, menguatkan bentuk dari kebiasaan, mendukung atau menumbangkan status quo, membawa perubahan, mengembalikan keseimbangan dan harmoni. Ritual-ritual juga memiliki peran yang penting dalam penyembuhan. Ritual-ritual juga dapat digunakan untuk memelihara tenaga kehidupan dan kesuburan bumi, dan memastikan hubungan yang benar dengan dunia yang tak terlihat, apakah itu roh, roh nenek moyang, dewa-dewi atau kehidupan supranatural lainnya.[3]

Dalam suatu ritual dikenal suatu istilah rite of passage yang di dalamnya meliputi tiga hal; preliminal, liminal, dan postliminal. Tiga hal ini berkorelasi satu dengan lainnya, dan memiliki satu hubungan. Preliminal berarti pemisahan terhadap situasi atau tahap tertentu, liminal berarti transisi dari pemisahan ke penyatuan kembali dan postliminal berarti penyatuan kembali. Tetapi dalam suatu upacara ritual, tidak selamanya mempunyai urutan seperti diatas. Terkadang liminal langsung menyatu dengan dengan kedua tahap lainnya. Terkadang juga ada yang lengkap dalam tiga tahap seperti diatas. Itu tergantung pada jenis ritual yang diadakan.[4]

Apa tujuan ritual? Ritual sebagai kontrol sosial bermaksud mengontrol perilaku dan kesejahteraan individu demi dirinya sendiri sebagai individu ataupun individu bayangan. Hal ini semua dimaksudkan untuk mengontrol, dengan cara konservatif, perilaku, keadaan hati, perasaan dan nilai-nilai dalam kelompok demi komunitas secara keseluruhan. Ritual bisa ada faedahnya maupun tidak namun ritual harus memiliki makna dalam pelaksanaannya.[5]

Ritual Keleman di Desa Peniwen[6]

Pembahasan akan ritual Keleman tidak bisa dilepaskan dengan keadaan historis-kultural ritual itu ada, yaitu di Desa Peniwen dan sejarah dibelakangnya. Desa Peniwen merupakan suatu desa Agraris yang terletak di lereng Gunung Kawi daerah Malang Selatan. Desa ini mayoritas penduduknya Kristen atau lebih tepatnya 99% penduduknya Kristen dan 1% Katolik.[7] Namun keadaan ini sudah berlangsung sejak awal mulanya desa ini dibentuk, bahkan awal mulanya desa ini dapat dikatakan 100 % penduduknya Kristen. Hal ini dapat dimaklumi karena sejak babad alas, pembabad desa yang sekaligus pendiri desa yaitu Kyai Zakheus Laksanawi bersama 20 temannya menghendaki agar desa ini menjadi desa kristen. Dalam subyektifitas penulis, tradisi setempat rupanya sejak awal tidak ditinggalakan, dengan kata lain budaya setempat tetap dijalankan oleh seluruh penduduk warga baik dari awal mulanya sampai sekarang, tahun 2011. Hal tersebut terbukti dengan sedikitnya perubahan dari berbagai budaya di desa ini termasuk adanya dan pelaksanaanya ritual Keleman. Sekalipun ada bebarapa budanya yang memang nampaknya sudah dimaknai ulang berdasar kaidah agama kristen.

Ritual Keleman merupakan ritual yang sudah ada sejak tahun-tahun awal desa Peniwen di babad. Istilah babad[8] ini hendak menunjukkan keadaan dimana desa pertama kali terbentuk setelah beberapa orang pertama yang menginjakkan kakinya di hutan yang rimbun dan wingit; angker yang kemudian dibabad alias ditebang hutannya dan dibangun desa yang akhirnya dinamai Desa Peniwen.

Alas Peniwen dibabad oleh Kyai Zakheus Laksanawi bersama dengan 20 orang temannya pada hari selasa legi tanggal 17 Agustus 1880 yang akhirnya tak lama setelah itu berdirilah Desa Peniwen.[9] Pada awalnya desa ini hanya beranggotakan beberapa Kepala Keluarga saja yang terdiri dari keluarga pembabad alas. Para pembabad alas ini memiliki tujuan membuka lahan untuk penginjilan dan dibangunnya desa kristen. Dan memang tak lama kemudian dalam sejarah desa diceritakan bahwa beberapa orang yang mendiami daerah sekitar peniwen dibabtis dan menjadi Kristen.

Di awal kehidupan desa muncul beberapa permasalahan. Permasalahan yang utama yang dirasakan saat itu ialah tak kunjung datangnya hujan padahal wilayah Desa Peniwen secara letak geografisnya sangatlah bergantung pada hujan. Hampir seluruh wilayah desa waktu itu digunakan untuk kepentingan pertanian dan berladang sebagai penyokong kehidupan mula-mula warga desa. Sungguh sangatlah penting adanya air di desa ini bagi kehidupan warga desa, apalagi di desa ini sejak mulanya hanya ada sedikit sungai dan mata air. Faktor hujan sangatlah dibutuhkan oleh warga desa.

Permasalahan tidak datangnya hujan ini terus berlangsung, hingga pada bulan kesepuluh sejak berdirinya desa, Kyai Zakheus mengumpulkan seluruh penduduk desa untuk mengadakan rembug desa. Rembug desa merupakan acara kumpul bagi seluruh warga desa untuk membicarakan hal-hal yang menyangkut kehidupan bersama seluruh warga desa. Acara ini berlangsung layaknya suatu diskusi dan disepakati suatu keputusan bersama. Pada saat itu, berdasarkan arahan Kyai Zakheus munculah suatu keputusan yaitu akan diadakannya suatu ritual desa untuk memohon hujan. Ritual tersebut dinamai Keleman. Kata Keleman sendiri berasal kata kelem yang berarti basah dalam air. Dari asal usul katanya tersebut, ritual ini dimaksudkan agar nantinya hujun dapat turun ketanah di desa Peniwen yang sumbernya ialah dari Sang Pencipta. Secara tidak langsung ritual ini memiliki makna sebagai media permohonan warga Desa Peniwen kepada Sang Pencipta akan datangnya hujan.

Ritual Keleman dari awal mulanya sampai sekarang tidak banyak mengalami perubahan. Pada awal mulanya ritual diadakan oleh seluruh warga desa. Kepala Desa, yang pada waktu itu Kyai Zakheus menghimbau seluruh warga agar mengumpulkan encek. Encek merupakan 1 tatanan makanan berukuran 50 cm berisi 4 kotak yang terbuat dari pelepah pisang yang dibentuk kotak ditengahnya dipisahkan secara horisontal dan vertikal oleh bambu kecil. Encek ini diisi dengan 4 porsi makanan yang ditaruh dalam wadah yang terbuat dari kombinasi pelepah pisang dan daun pisang. Makanan yang ada ditaruh dalam wadah tersebut haruslah berisi nasi dan lauk; apapun itu bentuknya. Hal tersebut sebenarya merupakan simbol kalau kita hendak memohon berilah apa yang terbaik dari hasil kerja kita; dalam konteks mulanya hasil bumi pertanian atau berladang. Namun dewasa ini, dapat berbentuk makanan hewani dan lain sebagainya sesuai pertimbangan keluarga masing-masig.

Pelepah Pisang yang dibentuk kotak

Belahan bambu yang dibuat menyilang sebagai penampang kotak


Encek sekaligus merupakan simbol ucapan permohonan keluarga akan datangya hujan dan sekaligus syukur atas hasil tanah yang telah dituai oleh keluarga yang bersangkutan. Jadi tidaklah mengherankan bila biasanya makanan yang ada dalam wadah tersebut enak-enak. Encek yang berasak dar tiap keluarga nantinya akan dikumpulkan menjadi satu di balai desa yang akan digunakan dalam serangakaian ritual keleman.

Ritual keleman selalu diadakan di balai desa yang terletak tepat ditengah desa. Sebenanrnya ini juga merupakan suatu simbol yang hendak mengungkapkan bahwa ritual ini berada ditengah pusat desa agar Sang Pencipta benar-benar mendengarkan umatnya yang sedang menjalankan ritual tersebut. Ritual ini diadakan selalu tepat pada tanggal 30 Oktober, karena dianggap sebagai bulan terakhir masa kering tanpa hujan dimana hujan kelak turun dibulan berikutnya. Ritual dimulai ketika weluruh warga desa dianggap telah datang; biasanya diwakili oleh kepala keluarga.

Tiap kepala keluarga yang datang dipersilakan menyerahkan encek dan duduk bersila di tempat yang telah disediakan. Setelah itu semua diajak untuk berdoa bersama kepada Sang Pencipta. Doa ini cukup lama karena setelah tetua desa berdoa disusul oleh warga secara bersama-sama. Dalam doa bersana yang dipanjatkan ialah permohonan pada Sang Pencipta agar mendatangkan hujan bagi tanah di desa. Doa bersama usai, dilanjutkan dengan tetua desa yang menceritakan makna ritual keleman ini secara turun temurun sejak awal mulanya dibentuk oleh pendahulu desa (nenek moyang desa).

Di akhir jalannya ritual, semua warga dipersilakan mengambil kembali encek yang bukan miliknya yang pada awalnya telah dikumpulkan. Ini merupakan simbol bahwa permohonan yang telah disampaikan kepada Sang Pencipta akan dikabulkan dan dibawa kerumah masing-masing melalui encek dengan maksud diberkatinya keluarga yang bersangkutan bukan hanya atas keluarganya sendiri namun masyarakat desanya. Oleh karena itulah encek ditukar-tukar dan tidak diperkenankan mengambil encek miliknya sendiri. Dibalik ritual ini mengandung segi komunal. Dan dalam serangkaian ritual ini berlangsung, warga tak diperkenankan membuat bising atau berbicara sendiri agar suasanya sakral.

Refleksi – Pandangan Gereja terhadap Ritual Keleman

Sekilas ritual ini kurang magis kelihatannya, tetapi dalam pandangan subyektifitas penulis yang sejak kecil dan lahir di desa ini serta mengikuti ritual ini, warga selalu nampak hikmad dan syahdu dalam melaksanakan ritual ini. Mereka mempercayai bahwa dengan ritual ini memang akan datang hujan yang sesuai dengan kebutuhan pertanian di desa. Sekalipun sekarang ini, kita ketahui bersama bahwa musim seringkali bergeser namun tetap terlihat tidak mempengaruhi apa yang telah dipercayai oleh warga. Satu hal lagi yang tak terlupa bahwa dalam pelaksanaannya ritual ini dipenuhi dengan pemaknaan akan simbol-simbol yang sebenarnya akan dijelaskan oleh tetua desa di setiap dijalankannya ritual. Hal ini bertujuan agar pemaknaan ini sampai kepada generasi yang mungkin tidak tau-menau tentang ritual ini dan maksud penyelenggaraannya. Makna inti dan barang tentu juga merupakan makna asli dari ritual ini ialah permohonan Kepada Sang Pencipta akan datangnya hujan dan sebagai suatu pengharapan bagi kelangsungan kehidupan tumbuhan di tanah yang telah diberi Sang Pencipta dan kelangsungan kehidupan mereka manusia, (keseimbangan kosmis).

Gereja dalam konteks ritual ini ada yaitu Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Peniwen memiliki pandangan yang positif terhadap adanya ritual Keleman. Jemaat GKJW Peniwen pun juga melaksanakan ritual ini sekalipun memang sekarang ini ritual ini terlebih ditujukan pada Allah sebagai Sang Pencipta alam semesta. Artinya dari yang semula dalam buku sejarah desa atau dari tinutur[10] tetua desa bahwa itu ditujukan pada Sang Pencipta yang terlihat Universal sekarang kepada Allah sebagai pemaknaan dalam pandangan Kristiani. Hal ini tentunya dikarenakan desa ini dapat dikatakan 100% jemaat kristennya yang merupakan 99% jumlah warga desa berasal dari satu denominasi gereja yaitu GKJW Peniwen, dan memang dari awalanya gereja ini sudah terbentuk tak jauh dari ritual ini terbentuk. Oleh karena itu, bisa memiliki pandangan positif akan adanya ritual ini.

Daftar Pustaka

- Bowie, Fiona. 2000. The Anthropologi of Religion. Oxford: Blackwell.

- Dhavamony, Mariasusai. 1995. Fenomenologi Agama. Yogyakarta:Kanisius.

- Widyana ,Susya. 2000. Sejarah Desa Peniwen. Peniwen.



[1]Fiona Bowie, The Antropologi of Religion (Oxford: Blackwell, 2000), hlm. 155-157

[2] Fiona Bowie, The Antropologi of Religion, hlm. 155

[3] Fiona Bowie, The Antropologi of Religion, hlm. 151

[4] Fiona Bowie, The Antropologi of Religion, hlm. 162-163

[5] Mariasusai dhavamony.Fenomologi Agama.hal 174-175

[6] Ditulis Penulis berdasarkan wawancara dengan tetua Desa Peniwen, Bapak J.S Suwarso dan dari buku Sejarah Desa

[7] Berdasarkan data statistik Desa Peniwen yang tercatat terakhir tanggal 16 Maret 2011

[8] Babad disini memiliki arti menebang hutan yang masih belum berpenghuni atau miliki bebas

[9] Susya Widyana, Sejarah Desa Peniwen, (Peniwen, 2000), hal 2

[10] Istilah dalam bahasa jawa yang kurang lebih apabila dibahasakan indonesia artinya nasehat sekaligus perkataan yang bermakna yang terjadi dalam dialog secara langsung

Paulus, suatu pendekatan historis dogmatis

Rasul yang Cerdas

Pengaruh Paulus terhadap kekristenan mula-mula

Kekristenan awal abad pertama berkembang tidak terlepas dari peranan Yesus sebagai tokoh sentral dalam narasi historis sebagaimana tercatat dalam teks Perjanjian Baru dan naskah-naskah lainnya yang berhubungan dengan penggambaran kekristenan mula-mula saat itu. Ia mampu mendobrak suatu tatanan norma yang ada dalam dunia Timur saat itu, sehingga Yesus selain sebagai tokoh iman;Mesias juga dapat dipandang sebagai seorang pendobrak sosialis pada zamannya. Pengaruhnya sangatlah besar sepanjang perjalanan misionaris yang pernah ia jalani sampai pengaruh itu turun menurun pada muridnya dan diteruskan oleh muridnya ke murid mereka. Suatu sistem turunan pengajaran yang hingga sampai ke’kristen’an itu muncul. Hal ini bukan semata-mata hendak sangat mensentralkan peranan Yesus saat itu namun hendak memberikan gambaran bahwa perkembangan kekristenan perlu ditinjau dan dilihat dari berbagai tokoh yang mengabarkan dan menumbuhkembangkan agama baru ini pada zamannya itu; dan memang dalam paper ini tidak akan dibahas siapa dan bagaimana Yesus dalam peranannya teradap kekristenan mula-mula.

Tokoh-tokoh historis yang dianggap sebagai pekabar dan pemegang peranan penting dalam perkembangan kekristenan mula-mula ialah para rasul, hal ini berkaitan dengan status mereka terhadap Yesus. Mereka dianggap sebagai saksi atau orang yang menerima berita langsung dari Yesus dan mengikuti sepanjang perjalanan historis Yesus. Sehingga berita mengenai keselamatan iman yang dibawa Yesus dapat berkembang dengan luas melalui tangan pelayanan para bapa rasuli ini. Merekalah yang dianggap mula-mula mengembangakan kekristenan dan gereja pada awal abad pertama. Tetapi ukuran bahwa yang dikatan rasul itu adalah orang yang mengenal Yesus secara langsung dan ada denganya sepanjang perjalanan bukan dalam suatu artian yang harafiah sempit.

Para rasul yang menyebarkan kekristenan ini sebenarnya mereka bukan merupakan satu-satunya kelompok yang menyebarkan pengaruh pada masyarakat saat itu, namun ada kelompok-kelompok lain yang senada pelayanan dalam ajaran yang dimiliki Yesus Kristus. Keliahatanya Yesus memiliki murid-murid lain yang pekerjaan pelayanannya sama halnya dengan para rasul ini.[1] Maka dari itu perlu disadari terlebih dahulu bahwa perkembangan kekristenan itu bukan merupakan usaha pribadi melainkan usaha komunal pada zamannya.

Konteks masyarakat dimana injil diberitakan sampai nantinya kekristenan muncul dan tumbuh berkembang tak terlepas dari adanya masyarakat yang heterogen saat itu. Terdapat banyak aliran kepercayaan dalam berbagai daerah dan agama Yahudi yang masih sangat kuat dipengang oleh beberapa kelompok masyarakat serta keadaan politis pemerintahan saat itu. Mengamati perkembangan kekristenan mula-mula oleh para rasul tidak lepas dari konteks masyrakat mereka berada. Dan hal inilah yang biasanya menjadi alasan bahwa pekabaran injil dan perkembangan kekristenan mula-mula oleh para rasul kebanyakan bernuansa Yahudis karena ruang lingkup masyarakat saat itu masih banyak dari kaum Yahudi tetapi sudah mulai memasuki peradaban orang Yunani-Romawi. Namun ada satu tokoh yang juga dianggap rasul dan memiliki corak yang berbada diantara para rasul lainnya dalam sejarah perkembangan kekristenan ialah Paulus.

Paulus dipandangan sebagai rasul yang memiliki kekhasan. Selain dirinya bukan orang yang benar-benar menyaksikan Yesus dan mengikuti perjalanan hidup dan pelayanannya, Paulus dianggap sebagai rasul. Ia juga seorang rasul yang menyebarkan injil dan mengembangakan kekristenan pada masyarakat Non-Yahudi. Dan dia merupakan tokoh yang populer dizamannya dan zaman sekarang. Orang zaman sekarangpun lebih banyak mengenal Paulus dari pada murid-murid Yesus yang ialah rasul itu.; orang kristen awampun serasa berpendapat demikian. Teks alkitab dalam kanon yang sekarang kita kenal juga memiliki porposi yang besar terhadap teologi Paulus dan corak pengaruhnya pada kekristenan mula-mula zaman itu. Namun apakan sebenarnya yang menarik daripada Paulus jika dihubungkan dengan perkembangan kekristenen mula-mula?

Siapakah Paulus ?

Paulus lahir di Tarsus, ibukota propinsi Kilikia di Asia Minor, salah satu pusat kota yang memiliki kebudayaan kesastraan yang hebat. Dan bahkan orang Tarsus itu kepandaiannya dibidang literatur/kesastraan melebihi kemampuan masyarakat Atena dan Aleksandria, mereka benar-benar mencintai perihal kesastraan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kemapuan intelektual. Bukan tanpa diragukan lagi bahwa kota kelahiran Paulus merupakan tempat yang besar dan penting, memiliki keunggulan dibidang pendidikan, masyarakatnya bangga dengan budaya Yunanainya, dan masyarkat yang memiliki sumbangan terhadap kebanggaan intelektual yang melampaui keadaan biasa. [2] Tarsus merupakan salah satu kota pusat kebudayaaan Yunani (helenis). Dan melalui kota kelahirannya ia mendapatkan pelajaran akan budaya Yunani.

Keluarga Paulus adalah kaum Yahudi yang berkebangsaan Romawi. Keluarganya mempunyai kedudukan sosial yang cukup terhormat, kaya dan berpengaruh.[3] Paulus pun memiliki kewarganegaraan Romawi sejak lahirnya (Kis. 22:25-29). Ayahnya mendidik Paulus dengan ajaran Yahudi dengan sangat ketat. Saulus merupakan nama Ibraninya dan ia sebenarnya akrab dikenal dengan nama Romawinya Paulus. Ia dapat berbicara dua bahasa, bahasa Aram dan bahasa Yunani dengan lancar. Ia juga merupakan pelajar yang terdidik dan ia mempelajari filsafat Stoa yang populer pada zaman itu. [4]

Paulus mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi tingkatannya di Yerusalem (Kis. 22:3) yang sudah alami/wajar bagi seorang anak dari keluarga kaya dan pemegang ketentuan agama yang kuat pada zaman itu. Meskipun ia banyak dipengaruhi dengan budaya helenis, ia memiliki kemampuan yang baik pula dalam hal Ibrani. Tulisan yang ia buatpun seringkali menunjukan kepiawaiannya dalam menggali budaya Ibrani dan ajarannya. Ia memiliki pemikiran seperti orang Ibrani dan menulis seperti gaya orang Ibrani. Ia juga memahami teks Yahudi dengan baik dan dapat menginterpratasikannya dengan kritis, bahkan bisa dikatakan melampaui pemikiran yang pernah ada saat itu.

Pendidikan yang ia alami dalam sekolah telah banyak membuat pemikirannya semakin tajam dalam melihat dunia secara lebih luas. Pengaruh pengajaran kuat yang ia alami biasanya membuat seseorang berpikir secara dogmatis. Tetapi berbeda dengan Paulus ia lebih dapat memikirkan hal-hal dengan pemikiran yang bebas dari pengaruh budaya rabinis Yahudi, cara pandangnya itu jelas, dan memiliki keteguhan dalam berpikir dan dalam mengutarakan pemikirannya sendiri . Paulus bukan hanya seorang pemikir yang senantiasa mencari arti kebenaran dalam hidupnya, tetapi ia juga adalah seorang religius yang kritis dan beriman kuat. Ia melakukan hukum agamanya dengan ketat, melakukan kehendak Allah, dan memiliki semangan patriotisme terhadap agamanya, selain pengaruh dar ajaran gurunya Gamaliel yang seorang rabi Yahudi terkemuka zaman itu. Ia termasuk orang yang tergolong sebagai seorang misonaris ketimbang seorang rabbi yang mengajar dan menetap dalam suatu batas wilayah tertentu. Dari sini semakin jelas sebenarnya mengapa ia begitu kuat melawan kekristenan mula-mula sebelum ia mengalami perjumpaan dengan Kristus.[5]

Paulus adalah orang yang memiliki sifat keras dalam pendiriannya, tekun dan bebas. Ketika ia mempercayai sesuatu ia mempercayainya dengan seluruh hatinya dan dengan seluruh pemikirannya. Bukan hanya pemikir tetapi orang yang aktif dalam tindakan atas buah pemikirannya sendiri. Tetapi ia juga seseorang yang peka terhadap keadaan dan melihatnya secara utuh dan memiliki kemampuan politis yang baik; dalam tindakan dan pemikirannya.

Paulus yang bertransformasi

Perjumpaan pertama Paulus dengan orang kristen/kekristenan tidak dapat diketahui secara pasti. Namun diperkitakan ia pertama kali memiliki kontak dengan orang kristen pada waktu penghukuman Stefanus yang dirajam batu (Kis.7:58). Disitu Paulus melihat keteguhan hati Stefanus yang setia sampai mati dengan ajaran Yesus yang dipeluknya dan bahkan teks mencatat ketika ia hampir matipun ia mengatakan “Tuhan, jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kis.7:60). Sudah disinggung sebelumnya bahwa sejak mulanya Paulus orang yang taat pada hukum dan ajaran agamanya tetap ia juga seorang yang kritis terhadap agamanya, dan seorang yang senantiasa mencari kebenaran dalam hidup. Dari latar belakang ini lantas ia semakin bertanya-tanya dalam dirinya mengapa Stefanus rela martir demi apa yang ia imani. Dari pemikaranya dan pergumulannya itu, semakin bencilah ia dengan orang-orang kristen. Baginya semakin orang kuat menentang apa yang diipikirannya semakin ia mencari jawaban dan menentang hal itu, atau implikasi lainnya ia semakin menentang apa yang beda dengan yang ia percayai.

Sejak kehadirannya dalam penganiayaan orang-orang Farisi terhadap Stefanus hingga mati, ia meminta surat kepada pemerintahan Romawi untuk membuat masyarakat kristen mematuhi dan menganut agama yang ia pegang saat itu. Dan penugasan ini menghantarkannya ke Damsyik. Dalam perjalanannya ke Damsyik disinilah titik dimana ia mengalami perjumpaan dengan Kristus. Sampai pada akhirnya ia mengalami pertobatan setelah ia mengalami penglihatan akan Allah sendiri dan dibutakan tetapi pada akhirnya dapat melihat kembali melalui baptisan pertobatan oleh Ananias, seorang yang diutus Allah.[6] Pertobatan yang ia alami ini bukan hanya pertobatan dalam hal spiritual sebagaimana yang biasa kita pahami dengan pemikiran modern, namun perubahan pada cara ia berpikir, cara ia memahami suatu kebenaran, kesatuan dan kebulatan pendirian terhadap kebijaksanaa dan kebenaran akan iman Kritiani dan aksi terhadap apa yang ia percayai saat ini. Sebuah langkah baru baginya dan sekaligus tantangan yang berat melihat statusnya sebelum mengalami perjumpaan dengan Kristus. Atau kata dalam dunia modern ia bertransformasi dalam iman percayanya dan pegangan hidup; dalm pikiran maupun tindakannya.

Latar belakang sifat yang ia miliki, menjadikannya seorang petobat yang bukan pasif melainkan aktif. Titik poin terpenting dalam pertobatan Paulus sebenarnya terletak pada transformasi dalam dirinya itu. Suatu aksi terhadap apa yang ia percayai dan diamanatkan baginya. Hal ini terbukti ketika pertobatannya tak selang beberapa lama ia memulai misi pekabaran kekristenan. Teks Kis.9:19-25 yang secara implisit memberi keterangan selang waktu Paulus pasca. Ketika ia bertobat tak lama kemudian ia pergi terlebih dahulu ke Arab. Tak tahu sampai berapa lama ia di Arab. Setelah itu ia kembali lagi ke Damsyik dan baru ke Yerusalem untuk meminta ijin kepada para rasul dalam misi pekabaran kekristenan. Interval waktu antara kembalinya ke Damsyik dari Arab pergi ke Yerusalem adalah 3 tahun. Hal ini disebabkan karena ia menhindari untuk sementara perdebatan mengenai dirinya dan segala kontroversi dalam pertobatanya.[7] Saat ia kembali ke Yerusalem ia pergi menemui Petrus, Bapa Rasuli yang paling penting sebagai seorang kepala dari para rasul dan pemberi kebijakan. 3 tahun adalah waktu yang cukup untuk menghilangkan sederetan keberatan dan kontroversi terhadap Paulus.[8] Dalam kata lain kini Paulus seolah-olah memiliki langkah baru untuk memulai misinya tanpa bahaya yang sangat riskan. Dan dalam jangka waktu ini jelas bahwa ia semakin independen dalam pendirian dan pengaruh utama kerasulan, mengabdobsi kedudukan yang cukup aman, dan membuka pintu karirnya. Namun tidak semua rasul menerima kehadiran dan niat baik Paulus ini (Kis.9:26)

Tahap awal pekerjaan misi Paulus ialah targetnya masyarakat Yahudi pada mulanya (Kis.9:28-29). Namun disana ia menuai kontra dari masyarakat atau kaum agamawis. Sehingga ia pun harus undur dalam pengajaran terhadap kaum Yahudi. Selain dari alasan tersebut sebenarnya ada perdebatan politis dalam kerasulan waktu itu dan dalam masyarakat syahudi sendiri. Dan akhirnya ia memutuskan untuk mengadakan pelayanan melalui orang non Yahudi selain dari saran Petrus. Tetapi Paulus sendiri merasa bahwa sebenarnya dirinya memang diutus Tuhan untuk mengadakan pelayanan terhadap oarang-orang Non-Yahudi. Dari sinilah serigkali muncul istilah ‘Paulus, rasul orang-orang Non-Yahudi’.[9]

Kronologi Hidup dan Perjalanan Misi Paulus[10]

5 CE Kelahiran Paulus. Paulus lahir antara tahun 6 SM s/d 10 M tetapi kemungkinannya sekitar 5 M (berdasarkan istilah ‘seorang muda’ [kis.7:58] dan sudah menjadi tua [flm.9] )

30 - 35 CE Stefanus mati syahid (Kis. 7:57-60) – Paulus bertobat di/dekat Damsyik – tinggal di Arab – kembali lagi ke Damsyik

33 (36) Kunjungan pertama Paulus ke Yerusalem

34 (37) Perajalanan ke Siria dan Kilikia. Misinya disana terutama fokus di Galatia Selatan bersama dengan Barnabas dan dibawah bantuan misi gereja Antiokia (Kis.9:30; Gal.1:21)

41 Tiba di Korintus

43/44 Kunjungan ke Yerusalem waktu wabah kelaparan (Kis.11:27-30; 12:25; Gal.2:1-10) terjadi antara 2 perjalanan ke dan dari Yerusalem (Kis.12:19-23)

46-48 Perjalanan misi yang pertama (Kis.13:2-14:28)

49/50 sidang di Yerusalem (Kis.15:1-29; Gal.2:1-10)

50-52 Perjalanan misi yang kedua (Kis.15:40-28:23)

52 Kembali ke Yerusalem dan Antiokia (Kis.18:22)

52-57 Perjalanan misi yang ketiga (Kis.18:23-21:17)

57 Ditangkap di Yerusalem (Kis.22:30)

57-59 Dipenjara di Kaisarea (Kis.23:23-26:32)

59 Perjalanan ke Roma – kapal karam (Kis.27:1-28:16)

59-61/62 Dipenjara untuk pertama kalinya di Roma (Kis.28:16-31)

62 Dibebaskan dari penjara di Roma

62-67 Perjalanan misi yang keempat (tit 1:5)

67/68 Dipenjara untuk kedua kalinya di Roma (2 Tim 4 : 6-8) – diadili dan dibunuh di Roma

Data kronologi diatas hendak menunjukkan bagaimana keadaan Paulus dalam misi-misi kekristenan abad mula-mula dan tantangan yang harus ia hadapi. Di dalam setiap misi yang ia tempuh dalam beberapa tempat ia mendapati masalah-masalah yang berbeda bagi tiap jemaat; jemaat dalam gereja yang memang baru didirikan olehnya atau jemaat yang sudah ada di tempat tersebut. Dari gambaran ini kita juga mendapati betapa luasnya jangkauan pelayanan Paulus saat itu. Entah bagaimana ia memutuskan untuk menapaki perjalanan ini, pekabaran terhadap masyarakat terkhususnya masyarakat Non-Yahudi. Maka dapat dikatakan bahwa ia menyebaruaskan kekristenan dalam skala yang besar. Meskipun patut disadari bahwa ia tidaklah bekerja sendirian dan patut diasadari pula bahwa sebelum dia ada beberapak situasi dimana kekristenan sebenarnya sudah mulai tumbuh. Dari sinilah tidak mengherankan bahwa Paulus banyak memiliki pengarauh terhadap tumbuh kembangnya kekristenan saat itu.

Disamping itu, teologi yang dianut Paulus lebih dikatakan kontekstual dan menjawab tantangan jemaat mula-mula. Dasar teologinya yang terkenal dan menjadi dasar utama antara lain: Keselamatan didalam Kristus bukan hanya milik orang Yahudi namun semua bangsa berhak mendapatkan keselamatan di dalam Kristus, orang Kristen yang bukan Yahudi tidak perlu mematuhi secra ketat/ kaku hukum/ adat istiadat Yahudi untuk masuk Kristen, Dosa ialah sesuatu yang jahat didalam daging-Kristus datang untuk menebus manusia didalam daging dan roh melalui pengorbanannya di Salib.[11] Namun ada beberapa penekanan yang Paulus seringkali berikan ialah mengenai kemandirian gereja/ pemisahan gereja terhadap gereja tunggal di Yerusalem waktu itu.

Konteks kekristenan mula-mula – kondisi jemaat

Konteks masyarakat/jemaat tempat penyebaran kekristenan yang dilakukan Paulus sangatlah heterogen. Dapat dikatakan secra tegas bahwa ditiap wilayah yang pernah ia singgahi terdapat permasalahannya sendiri-sendiri. Tidaklah mungkin membahas keadaanya jemaat di wilayah-wilayah pelayananya secara satu-persatu dan mendetail, namun yang hendak dipaparkan disini ialah corak atau apa yang Paulus lakukan dalam mengahadap beberapa permasalahan yang terjadi dan bagaimana respon jemaat mula-mula saat itu sehingga kita dapat mendapatnkan gambaran secara umum mengenai perkembangan kekristenan dari segi sosiologis (konteks masyarakat). Dan perlu diingat lagi bahwa zaman itu masyarakat rata-rata bercampur antara yang Yahudi dan Non-Yahudi.

Galatia[12]

Ditengah masyarakat Galatia yang Plural; Yahudi dan Non yahudi ada suatu permasalahan tersembunyi dalm keadaan masyarakat ini. Permaslaahan yang dimaksudkan ialah mengenai kaum Yahudi yang seringkali memaksakan orang-orang yang bukan Yahudi untuk memeluk agama mereka. Dan kekristenan disini hadir sebagai suatu sekte, aliran agama yang baru. Paulus datang dan meberitakan kabar anugerah ditengah keadaan masyarakat ini. Tentunya ia mengalami perlawanan dari masayrakat Yahudi. Namun ia juga mendapatkan respon dari masyarakat secara umum. Sehingga kekristenan pun akhirnya dapat tumbuh di tempat ini. Permasalahan utama yang dihadapi Paulus di daerah ini ialah adanya golongan yang kntra dengan Paulus dan keberatan/penolakan masyarakat Yahudi terhadapnya. Hal lain yang terjadi ialah adanya masyarakat non Yahudi yang takut untuk tidak mematuhi ketentuan Yahudi saat itu. Paulus mengambil sikap yang cerdik. Ia mampu membaca situasi dan menawarkan dialog sarta suatu pertemuan sehingga dapat dibicarakan permasalahan dalam konteks penyebaran kekristenan, meskipun ini bukanlah masalah yang sederhana; dibalik ini masih banyak maslaah yang belum diungkapkan, tetapi setidaknya ini mau memberikan gamabaran pelayanan Paulus ditengah masyarakat yang menolaknya walaupun bukan secara mentah. Dan di tempat ini Paulus mengajarkan perihal gereja yang mandiri.

Korintus[13]

Berbeda dengan Korintus, permaslaahan yang dihadapi ialah keadaan masayrakat yang memang kacau dalam hal normanya dan tantangan dari dalam tubuh gereja sendiri. Selain itu adanya Gnosis yang tersebar di daerah Korintus ini dan aliran ini cukup memiliki pengaruh terhadap jemaat di Korintus sendiri. Di disini Paulus megajarakan tentang kesatuan dan keselamatan didalam Kristus. Ia cukup tegas dan kritis mengahadapi setiap gerak gerik oposisinya dalam penyebaran kekristenan waktu itu yang dapat kita lihat dalam 1 Korintus maupun 2 Korintus. Ia tidak pernah putus semangat ditengah keadaan masyarakat yang demikian adanya. Masyarakat di Korintus yang sedikit bebal itu terlihat juga menaruh perhatian pada Paulus; terlihat dari corak perbedaan suratnya yang pertama dan kedua pada jemaat Korintus bahkan ada sumber yang mengatakan ada surat lain yang sempat ia tulis kepada jemaat di Korintus. Entah seberapa jauh peranannya tetapi indikator bahwa adanya kekristenan dan gereja disitu merupakan salah satu buah pelayanan Paulus.

Refleksi

Rasul yang cerdas merupakan ungkapan yang seharusnya memang diberikan kepada Paulus. Sejak pendidikannya di Tarsus maupun Yerusalem, Paulus merupakan seorang cendikiawan yang pintar, kamampuan analisis kritisnya juga dikatakan melampaui pemikiran yang ada saat itu. Ia senantiasa menanyaan dan mencari kebenaran. Dari sifatnya yang teguh dalam pendirian, tegas, peka terhadap situasi dan analitis merupakan modal penting baginya dalam sepanjang perjalanan misi yang ia lakukan. Bukan hanya cerdas secara intelektual tetapi ia juga cerdas secara spiritual. Hal ini terbukti dalam pengalamannya akan pertemuan dengan Tuhan dan cara bagaimana ia menjawab begitu banyak kontroversi dan permasalahan . Ia mau mendengar apa yang dikatakan Tuhan dalam misi penyebaran kekristenan.

Melihat perkembangan kekristenan dalam paper ini memang memiliki kecenderungan dari segi sang pemimpin atau pelopor, Paulus. Sebagai seorang pemimpin banyak hal yang dapat digali dari diri Paulus. Memiliki kemapuan kognitif yang baik, spiritualitas yang baik, tegas, teguh dalam pendirian, inovatif dan kretif, memiliki strategi yang bagus, pandai berkomunikasi, kritis dan aktif dalam tujuan yang hendak dicapainya, terakhir menurut penulis memepunyai tujuan. Hal ini hendaknya menunjuk pada sosok pemimpin yang ideal. Sekalipun patut disadari juga bahwa Paulus sebenarnya juga memiliki tidak sedikit kelemahannya.namun di zaman sekarang ini, sulit melihat adanya seorang pemimpin yang imbang anatara kemampuan kognitifnya dan kemampuan emosional-spiritualitasnya. Seorang pemimpin yang baik memberi pengaruh pada orang yang dipimpin. Dan pengaruh ini yang terkadang meberikan indikasi kesuksesan seseorang dalam memimpin. Jadilah pemimpin yang kritis dan bijaksana dalam berpikir dan bertindak.

Kekristenan dapat bertumbuh dengan pesat setelah abad pertama tak lepas dari peran penyebaran kekristenan yang dilakukan Paulus saat itu. Kekristenan yang menyebar bukan hanya pada satu suku bnagsa saja melainkan lebih holistik lagi. Bukan pada suatu kalangan tertutup tetapi pada kalangan yang terbuka. Tak memandang bagaimana kekristenan itu dipahami hanya satu golongan saja melainkan oleh seluruh golongan dalam kesatuan akan Kristus. Jika kita melihat zaman modern ini, banyak sekali denominasi gereja terkhususnya di Indonesia. jangankan dalam denominasi yang banyak itu, dalam satu sinode pun terkadang dan mungkin malah pasti ada perbedaan pola berkembang dan pemikiran yang terkadang bukan menyatukan dalam satu visi Kristus melainkan memecah. Hal ini sangat mengkin terjadi karena tujuan atau fokus yang ada dalam gereja seringkali bersifat polits dari pada memperhatikan kehendak Allah. Memang urusan duniawi memang penting adanya namun jangan dilupakan hal spiritualitas pun juga ada pentingnya, dalam hal ini melihat kasatuan dalam tubuh Kristus.

Ada satu slogan yang sering saya dengar dan itu manarik bagi saya; “kita semua teman, kita smeua saudara’ dari zaman PL samapai Pb; zaman Paulus pun juga dan sampai sekarang permasalahan kesatuan bukanlah hal yang berujung jelas. Tetapi kalau kita mau lihat dalam slogan ini sebenarnya yang dibutuhkan hanya rasa ketermilikian; sense of belonging- dan suatu sikap yang taka kalah penting yaitu keterbukaan sebagaimana Paulus membuka jalan akan penyebaran kekristenan bukan terpaut pada satu suku bangsa saja dan dapat menangkal berbagai pengaruh dari banyaknya aliran yang ada pada zaman itu dengan menekankan kesatuan dalam Kristus. Marilah kita memandang orang-orang disekitar kita sebagai teman sepelayanan, saudara sepelayanan dalam kasih ddan satu dalam tubuh Kristus. Air itupun masih mengalir. Pengaruh dan perkembangan kekristenan harus tau konteks dimana kekristenan itu hendak tumbuh. Sebenarnya perkembangan kekristenan dan penyebarannya ibarat suatu air yang mengalir, suatu proses yang senantiasa berjalan. Kita dalam setiap generasi kita memiliki rasa meneruskan karya Allah dalam dunia dengan cara apapun yang kita hidupi dalam panggilan kita masibg-masing. Itu merupakan aliran air yang akan terus mengalir selama kita mau menghidupinya.

Daftar Pustaka

________. Alkitab Terjemahan Baru dan New International Version, (Jakarta:LAI, 2009)

Cushman McGiffert, Arthur. A History of Christianity of the Apostolic Age, (Edinburg: T. &

T. Clark 38 George Street, 1897)

Luedemann, Gerd. Paul, Apostle to the Gentiles – Studies in Chronology, (Philadelphia:Fortress Press, 1984)

Wahono, Wismoady. Di Sini Kutemukan, (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2009)

Watson, Francis. Paul, Judaism and the Gentiles. (Cambridge: Cambridge University, 1986)

Weizsacker, Carl Von. The Apostolic Age of the Christian Church, (New York: G.P. Putnam’s Son & London: Williams and Norgate, 1894)



[1] Dalam penggambaran Lukas 10:1 dikatakan bahwa melaui Yesus Kristus ditunjuk 70 orang yang merupakan murid-murid lain dari padanya; yang bukan keduabelas rasul, kepada kota-kota dalam perjalanan pekabaran injil. Dimana pertumbuhan dan perkembangan kekristenan mula-mula berada dalam konteks Yunani-Romawi. Tetapi selain itu, ada beberapa sumber lain yang mengatakan bahwa pasca kematian Yesus; yang merupakan masa para rasul, juga ditemukan adanya pengaruh pekabaran injil di luar daerah Yunani-Romawi seperti daerah Mesir, Arab, Siria, dan Mesopotamia, lih. Wismoadi, Di Sini Kutemukan, (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2009) hal 458

[2] Arthur, A History of Christianity in the Apostolic Ages, (Edinburgh: T. & T. Clark 38 George Street, 1897), p. 113

[3] Arthur, A History of Christianity in the Apostolic Ages,p.114

[4] Wismoadi, Di Sini Kutemukan, hal 414

[5] Arthur, A History of Christianity in the Apostolic Ages,p.117

[6] Dalam Kis.9 dikatakan bahwa ia mengalami perjumpaan secara personal dengan Tuhan yang membuat pemikirannya dan apa yang ia percayai berubah secara total. Bahkan saat ia hendak dibaptis oleh Ananias pun dinarasikan Tuhan hadir dan akhirnya mengutus Paulus dengan keutuhan amanat personal Tuhan terhadap Paulus. Teks inilah yang seringkali dibuat bahan acuan tentang identitas kerasulan Paulus. Memang benar ia bukan saksi hidup dalam serangkaian perjalanan Yesus, namun ia mengalami kedekatan dnegan Yesus melalui perjumpaan personalnya dengan Tuhan. Dan perjumapaan ini seakan mendarahdaging dalam tubuh Paulus hingga ia benar-benar berani mengatakan ia memiliki tugas pelayanan seperti rasul.

[7] Carl Von W., The Apostolic Age of the Christian Church, (London:William and Nargote, New York: G.P Putman’s son 1894) p.95-96

[8] Perlu diingat kembali bahwa Yerusalem merupakan sentral kota yang sangat penting dalam memahami persebaran kekristenan mula-mula. Hal ini disebabkan karena Yerusalem merupakan pusat pekabaran injil dan pusat keagamaaan saat itu. Segala kebijakan yang berhubungan dengan kebijakan agama terkhususnya kekristenan bermuara pada titik sentral kota ini dan waktu itu kebijakannya dipegang oleh Bapa Rasuli.

[9] Francis Watson. Paul, Judaism and the Gentiles – a sociological approach, (Cambrige:Cambrige University 1986), p.52

[10] Berdasarkan keterangan dalam Alkitab Terjemahan Baru – New International Version, LAI (Jakarta:2009) dibandingkan dengan data kronologi dari buku Gerd Leudeman. Paul, Apostle to the Gentiles, (Philadelphia:Fortress Press, 1984) p.262-263 dan yang hendak dipaparkan disini bukanlah detail mengenai seluruh kehidupan pelayanan Paulus, namun hanya beberapa hal saja yang kiranya penting untuk diketahui dalam rangka melihat pengaruh Paulus dalam kehidupan kekristenan mula-mula

[11] Disarikan dari Wismoadi, Di sini Kutemukan, hal 426-443

[12] Disarikan dari Francis Watson. Paul, Judaism and the Gentiles – a sociological approach,p. 49-69

[13] Francis Watson. Paul, Judaism and the Gentiles – a sociological approach,p. 80-85