Rasul yang Cerdas
Pengaruh Paulus terhadap kekristenan mula-mula
Kekristenan awal abad pertama berkembang tidak terlepas dari peranan Yesus sebagai tokoh sentral dalam narasi historis sebagaimana tercatat dalam teks Perjanjian Baru dan naskah-naskah lainnya yang berhubungan dengan penggambaran kekristenan mula-mula saat itu. Ia mampu mendobrak suatu tatanan norma yang ada dalam dunia Timur saat itu, sehingga Yesus selain sebagai tokoh iman;Mesias juga dapat dipandang sebagai seorang pendobrak sosialis pada zamannya. Pengaruhnya sangatlah besar sepanjang perjalanan misionaris yang pernah ia jalani sampai pengaruh itu turun menurun pada muridnya dan diteruskan oleh muridnya ke murid mereka. Suatu sistem turunan pengajaran yang hingga sampai ke’kristen’an itu muncul. Hal ini bukan semata-mata hendak sangat mensentralkan peranan Yesus saat itu namun hendak memberikan gambaran bahwa perkembangan kekristenan perlu ditinjau dan dilihat dari berbagai tokoh yang mengabarkan dan menumbuhkembangkan agama baru ini pada zamannya itu; dan memang dalam paper ini tidak akan dibahas siapa dan bagaimana Yesus dalam peranannya teradap kekristenan mula-mula.
Tokoh-tokoh historis yang dianggap sebagai pekabar dan pemegang peranan penting dalam perkembangan kekristenan mula-mula ialah para rasul, hal ini berkaitan dengan status mereka terhadap Yesus. Mereka dianggap sebagai saksi atau orang yang menerima berita langsung dari Yesus dan mengikuti sepanjang perjalanan historis Yesus. Sehingga berita mengenai keselamatan iman yang dibawa Yesus dapat berkembang dengan luas melalui tangan pelayanan para bapa rasuli ini. Merekalah yang dianggap mula-mula mengembangakan kekristenan dan gereja pada awal abad pertama. Tetapi ukuran bahwa yang dikatan rasul itu adalah orang yang mengenal Yesus secara langsung dan ada denganya sepanjang perjalanan bukan dalam suatu artian yang harafiah sempit.
Para rasul yang menyebarkan kekristenan ini sebenarnya mereka bukan merupakan satu-satunya kelompok yang menyebarkan pengaruh pada masyarakat saat itu, namun ada kelompok-kelompok lain yang senada pelayanan dalam ajaran yang dimiliki Yesus Kristus. Keliahatanya Yesus memiliki murid-murid lain yang pekerjaan pelayanannya sama halnya dengan para rasul ini.[1] Maka dari itu perlu disadari terlebih dahulu bahwa perkembangan kekristenan itu bukan merupakan usaha pribadi melainkan usaha komunal pada zamannya.
Konteks masyarakat dimana injil diberitakan sampai nantinya kekristenan muncul dan tumbuh berkembang tak terlepas dari adanya masyarakat yang heterogen saat itu. Terdapat banyak aliran kepercayaan dalam berbagai daerah dan agama Yahudi yang masih sangat kuat dipengang oleh beberapa kelompok masyarakat serta keadaan politis pemerintahan saat itu. Mengamati perkembangan kekristenan mula-mula oleh para rasul tidak lepas dari konteks masyrakat mereka berada. Dan hal inilah yang biasanya menjadi alasan bahwa pekabaran injil dan perkembangan kekristenan mula-mula oleh para rasul kebanyakan bernuansa Yahudis karena ruang lingkup masyarakat saat itu masih banyak dari kaum Yahudi tetapi sudah mulai memasuki peradaban orang Yunani-Romawi. Namun ada satu tokoh yang juga dianggap rasul dan memiliki corak yang berbada diantara para rasul lainnya dalam sejarah perkembangan kekristenan ialah Paulus.
Paulus dipandangan sebagai rasul yang memiliki kekhasan. Selain dirinya bukan orang yang benar-benar menyaksikan Yesus dan mengikuti perjalanan hidup dan pelayanannya, Paulus dianggap sebagai rasul. Ia juga seorang rasul yang menyebarkan injil dan mengembangakan kekristenan pada masyarakat Non-Yahudi. Dan dia merupakan tokoh yang populer dizamannya dan zaman sekarang. Orang zaman sekarangpun lebih banyak mengenal Paulus dari pada murid-murid Yesus yang ialah rasul itu.; orang kristen awampun serasa berpendapat demikian. Teks alkitab dalam kanon yang sekarang kita kenal juga memiliki porposi yang besar terhadap teologi Paulus dan corak pengaruhnya pada kekristenan mula-mula zaman itu. Namun apakan sebenarnya yang menarik daripada Paulus jika dihubungkan dengan perkembangan kekristenen mula-mula?
Siapakah Paulus ?
Paulus lahir di Tarsus, ibukota propinsi Kilikia di Asia Minor, salah satu pusat kota yang memiliki kebudayaan kesastraan yang hebat. Dan bahkan orang Tarsus itu kepandaiannya dibidang literatur/kesastraan melebihi kemampuan masyarakat Atena dan Aleksandria, mereka benar-benar mencintai perihal kesastraan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kemapuan intelektual. Bukan tanpa diragukan lagi bahwa kota kelahiran Paulus merupakan tempat yang besar dan penting, memiliki keunggulan dibidang pendidikan, masyarakatnya bangga dengan budaya Yunanainya, dan masyarkat yang memiliki sumbangan terhadap kebanggaan intelektual yang melampaui keadaan biasa. [2] Tarsus merupakan salah satu kota pusat kebudayaaan Yunani (helenis). Dan melalui kota kelahirannya ia mendapatkan pelajaran akan budaya Yunani.
Keluarga Paulus adalah kaum Yahudi yang berkebangsaan Romawi. Keluarganya mempunyai kedudukan sosial yang cukup terhormat, kaya dan berpengaruh.[3] Paulus pun memiliki kewarganegaraan Romawi sejak lahirnya (Kis. 22:25-29). Ayahnya mendidik Paulus dengan ajaran Yahudi dengan sangat ketat. Saulus merupakan nama Ibraninya dan ia sebenarnya akrab dikenal dengan nama Romawinya Paulus. Ia dapat berbicara dua bahasa, bahasa Aram dan bahasa Yunani dengan lancar. Ia juga merupakan pelajar yang terdidik dan ia mempelajari filsafat Stoa yang populer pada zaman itu. [4]
Paulus mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi tingkatannya di Yerusalem (Kis. 22:3) yang sudah alami/wajar bagi seorang anak dari keluarga kaya dan pemegang ketentuan agama yang kuat pada zaman itu. Meskipun ia banyak dipengaruhi dengan budaya helenis, ia memiliki kemampuan yang baik pula dalam hal Ibrani. Tulisan yang ia buatpun seringkali menunjukan kepiawaiannya dalam menggali budaya Ibrani dan ajarannya. Ia memiliki pemikiran seperti orang Ibrani dan menulis seperti gaya orang Ibrani. Ia juga memahami teks Yahudi dengan baik dan dapat menginterpratasikannya dengan kritis, bahkan bisa dikatakan melampaui pemikiran yang pernah ada saat itu.
Pendidikan yang ia alami dalam sekolah telah banyak membuat pemikirannya semakin tajam dalam melihat dunia secara lebih luas. Pengaruh pengajaran kuat yang ia alami biasanya membuat seseorang berpikir secara dogmatis. Tetapi berbeda dengan Paulus ia lebih dapat memikirkan hal-hal dengan pemikiran yang bebas dari pengaruh budaya rabinis Yahudi, cara pandangnya itu jelas, dan memiliki keteguhan dalam berpikir dan dalam mengutarakan pemikirannya sendiri . Paulus bukan hanya seorang pemikir yang senantiasa mencari arti kebenaran dalam hidupnya, tetapi ia juga adalah seorang religius yang kritis dan beriman kuat. Ia melakukan hukum agamanya dengan ketat, melakukan kehendak Allah, dan memiliki semangan patriotisme terhadap agamanya, selain pengaruh dar ajaran gurunya Gamaliel yang seorang rabi Yahudi terkemuka zaman itu. Ia termasuk orang yang tergolong sebagai seorang misonaris ketimbang seorang rabbi yang mengajar dan menetap dalam suatu batas wilayah tertentu. Dari sini semakin jelas sebenarnya mengapa ia begitu kuat melawan kekristenan mula-mula sebelum ia mengalami perjumpaan dengan Kristus.[5]
Paulus adalah orang yang memiliki sifat keras dalam pendiriannya, tekun dan bebas. Ketika ia mempercayai sesuatu ia mempercayainya dengan seluruh hatinya dan dengan seluruh pemikirannya. Bukan hanya pemikir tetapi orang yang aktif dalam tindakan atas buah pemikirannya sendiri. Tetapi ia juga seseorang yang peka terhadap keadaan dan melihatnya secara utuh dan memiliki kemampuan politis yang baik; dalam tindakan dan pemikirannya.
Paulus yang bertransformasi
Perjumpaan pertama Paulus dengan orang kristen/kekristenan tidak dapat diketahui secara pasti. Namun diperkitakan ia pertama kali memiliki kontak dengan orang kristen pada waktu penghukuman Stefanus yang dirajam batu (Kis.7:58). Disitu Paulus melihat keteguhan hati Stefanus yang setia sampai mati dengan ajaran Yesus yang dipeluknya dan bahkan teks mencatat ketika ia hampir matipun ia mengatakan “Tuhan, jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kis.7:60). Sudah disinggung sebelumnya bahwa sejak mulanya Paulus orang yang taat pada hukum dan ajaran agamanya tetap ia juga seorang yang kritis terhadap agamanya, dan seorang yang senantiasa mencari kebenaran dalam hidup. Dari latar belakang ini lantas ia semakin bertanya-tanya dalam dirinya mengapa Stefanus rela martir demi apa yang ia imani. Dari pemikaranya dan pergumulannya itu, semakin bencilah ia dengan orang-orang kristen. Baginya semakin orang kuat menentang apa yang diipikirannya semakin ia mencari jawaban dan menentang hal itu, atau implikasi lainnya ia semakin menentang apa yang beda dengan yang ia percayai.
Sejak kehadirannya dalam penganiayaan orang-orang Farisi terhadap Stefanus hingga mati, ia meminta surat kepada pemerintahan Romawi untuk membuat masyarakat kristen mematuhi dan menganut agama yang ia pegang saat itu. Dan penugasan ini menghantarkannya ke Damsyik. Dalam perjalanannya ke Damsyik disinilah titik dimana ia mengalami perjumpaan dengan Kristus. Sampai pada akhirnya ia mengalami pertobatan setelah ia mengalami penglihatan akan Allah sendiri dan dibutakan tetapi pada akhirnya dapat melihat kembali melalui baptisan pertobatan oleh Ananias, seorang yang diutus Allah.[6] Pertobatan yang ia alami ini bukan hanya pertobatan dalam hal spiritual sebagaimana yang biasa kita pahami dengan pemikiran modern, namun perubahan pada cara ia berpikir, cara ia memahami suatu kebenaran, kesatuan dan kebulatan pendirian terhadap kebijaksanaa dan kebenaran akan iman Kritiani dan aksi terhadap apa yang ia percayai saat ini. Sebuah langkah baru baginya dan sekaligus tantangan yang berat melihat statusnya sebelum mengalami perjumpaan dengan Kristus. Atau kata dalam dunia modern ia bertransformasi dalam iman percayanya dan pegangan hidup; dalm pikiran maupun tindakannya.
Latar belakang sifat yang ia miliki, menjadikannya seorang petobat yang bukan pasif melainkan aktif. Titik poin terpenting dalam pertobatan Paulus sebenarnya terletak pada transformasi dalam dirinya itu. Suatu aksi terhadap apa yang ia percayai dan diamanatkan baginya. Hal ini terbukti ketika pertobatannya tak selang beberapa lama ia memulai misi pekabaran kekristenan. Teks Kis.9:19-25 yang secara implisit memberi keterangan selang waktu Paulus pasca. Ketika ia bertobat tak lama kemudian ia pergi terlebih dahulu ke Arab. Tak tahu sampai berapa lama ia di Arab. Setelah itu ia kembali lagi ke Damsyik dan baru ke Yerusalem untuk meminta ijin kepada para rasul dalam misi pekabaran kekristenan. Interval waktu antara kembalinya ke Damsyik dari Arab pergi ke Yerusalem adalah 3 tahun. Hal ini disebabkan karena ia menhindari untuk sementara perdebatan mengenai dirinya dan segala kontroversi dalam pertobatanya.[7] Saat ia kembali ke Yerusalem ia pergi menemui Petrus, Bapa Rasuli yang paling penting sebagai seorang kepala dari para rasul dan pemberi kebijakan. 3 tahun adalah waktu yang cukup untuk menghilangkan sederetan keberatan dan kontroversi terhadap Paulus.[8] Dalam kata lain kini Paulus seolah-olah memiliki langkah baru untuk memulai misinya tanpa bahaya yang sangat riskan. Dan dalam jangka waktu ini jelas bahwa ia semakin independen dalam pendirian dan pengaruh utama kerasulan, mengabdobsi kedudukan yang cukup aman, dan membuka pintu karirnya. Namun tidak semua rasul menerima kehadiran dan niat baik Paulus ini (Kis.9:26)
Tahap awal pekerjaan misi Paulus ialah targetnya masyarakat Yahudi pada mulanya (Kis.9:28-29). Namun disana ia menuai kontra dari masyarakat atau kaum agamawis. Sehingga ia pun harus undur dalam pengajaran terhadap kaum Yahudi. Selain dari alasan tersebut sebenarnya ada perdebatan politis dalam kerasulan waktu itu dan dalam masyarakat syahudi sendiri. Dan akhirnya ia memutuskan untuk mengadakan pelayanan melalui orang non Yahudi selain dari saran Petrus. Tetapi Paulus sendiri merasa bahwa sebenarnya dirinya memang diutus Tuhan untuk mengadakan pelayanan terhadap oarang-orang Non-Yahudi. Dari sinilah serigkali muncul istilah ‘Paulus, rasul orang-orang Non-Yahudi’.[9]
Kronologi Hidup dan Perjalanan Misi Paulus[10]
5 CE Kelahiran Paulus. Paulus lahir antara tahun 6 SM s/d 10 M tetapi kemungkinannya sekitar 5 M (berdasarkan istilah ‘seorang muda’ [kis.7:58] dan sudah menjadi tua [flm.9] )
30 - 35 CE Stefanus mati syahid (Kis. 7:57-60) – Paulus bertobat di/dekat Damsyik – tinggal di Arab – kembali lagi ke Damsyik
33 (36) Kunjungan pertama Paulus ke Yerusalem
34 (37) Perajalanan ke Siria dan Kilikia. Misinya disana terutama fokus di Galatia Selatan bersama dengan Barnabas dan dibawah bantuan misi gereja Antiokia (Kis.9:30; Gal.1:21)
41 Tiba di Korintus
43/44 Kunjungan ke Yerusalem waktu wabah kelaparan (Kis.11:27-30; 12:25; Gal.2:1-10) terjadi antara 2 perjalanan ke dan dari Yerusalem (Kis.12:19-23)
46-48 Perjalanan misi yang pertama (Kis.13:2-14:28)
49/50 sidang di Yerusalem (Kis.15:1-29; Gal.2:1-10)
50-52 Perjalanan misi yang kedua (Kis.15:40-28:23)
52 Kembali ke Yerusalem dan Antiokia (Kis.18:22)
52-57 Perjalanan misi yang ketiga (Kis.18:23-21:17)
57 Ditangkap di Yerusalem (Kis.22:30)
57-59 Dipenjara di Kaisarea (Kis.23:23-26:32)
59 Perjalanan ke Roma – kapal karam (Kis.27:1-28:16)
59-61/62 Dipenjara untuk pertama kalinya di Roma (Kis.28:16-31)
62 Dibebaskan dari penjara di Roma
62-67 Perjalanan misi yang keempat (tit 1:5)
67/68 Dipenjara untuk kedua kalinya di Roma (2 Tim 4 : 6-8) – diadili dan dibunuh di Roma
Data kronologi diatas hendak menunjukkan bagaimana keadaan Paulus dalam misi-misi kekristenan abad mula-mula dan tantangan yang harus ia hadapi. Di dalam setiap misi yang ia tempuh dalam beberapa tempat ia mendapati masalah-masalah yang berbeda bagi tiap jemaat; jemaat dalam gereja yang memang baru didirikan olehnya atau jemaat yang sudah ada di tempat tersebut. Dari gambaran ini kita juga mendapati betapa luasnya jangkauan pelayanan Paulus saat itu. Entah bagaimana ia memutuskan untuk menapaki perjalanan ini, pekabaran terhadap masyarakat terkhususnya masyarakat Non-Yahudi. Maka dapat dikatakan bahwa ia menyebaruaskan kekristenan dalam skala yang besar. Meskipun patut disadari bahwa ia tidaklah bekerja sendirian dan patut diasadari pula bahwa sebelum dia ada beberapak situasi dimana kekristenan sebenarnya sudah mulai tumbuh. Dari sinilah tidak mengherankan bahwa Paulus banyak memiliki pengarauh terhadap tumbuh kembangnya kekristenan saat itu.
Disamping itu, teologi yang dianut Paulus lebih dikatakan kontekstual dan menjawab tantangan jemaat mula-mula. Dasar teologinya yang terkenal dan menjadi dasar utama antara lain: Keselamatan didalam Kristus bukan hanya milik orang Yahudi namun semua bangsa berhak mendapatkan keselamatan di dalam Kristus, orang Kristen yang bukan Yahudi tidak perlu mematuhi secra ketat/ kaku hukum/ adat istiadat Yahudi untuk masuk Kristen, Dosa ialah sesuatu yang jahat didalam daging-Kristus datang untuk menebus manusia didalam daging dan roh melalui pengorbanannya di Salib.[11] Namun ada beberapa penekanan yang Paulus seringkali berikan ialah mengenai kemandirian gereja/ pemisahan gereja terhadap gereja tunggal di Yerusalem waktu itu.
Konteks kekristenan mula-mula – kondisi jemaat
Konteks masyarakat/jemaat tempat penyebaran kekristenan yang dilakukan Paulus sangatlah heterogen. Dapat dikatakan secra tegas bahwa ditiap wilayah yang pernah ia singgahi terdapat permasalahannya sendiri-sendiri. Tidaklah mungkin membahas keadaanya jemaat di wilayah-wilayah pelayananya secara satu-persatu dan mendetail, namun yang hendak dipaparkan disini ialah corak atau apa yang Paulus lakukan dalam mengahadap beberapa permasalahan yang terjadi dan bagaimana respon jemaat mula-mula saat itu sehingga kita dapat mendapatnkan gambaran secara umum mengenai perkembangan kekristenan dari segi sosiologis (konteks masyarakat). Dan perlu diingat lagi bahwa zaman itu masyarakat rata-rata bercampur antara yang Yahudi dan Non-Yahudi.
Galatia[12]
Ditengah masyarakat Galatia yang Plural; Yahudi dan Non yahudi ada suatu permasalahan tersembunyi dalm keadaan masyarakat ini. Permaslaahan yang dimaksudkan ialah mengenai kaum Yahudi yang seringkali memaksakan orang-orang yang bukan Yahudi untuk memeluk agama mereka. Dan kekristenan disini hadir sebagai suatu sekte, aliran agama yang baru. Paulus datang dan meberitakan kabar anugerah ditengah keadaan masyarakat ini. Tentunya ia mengalami perlawanan dari masayrakat Yahudi. Namun ia juga mendapatkan respon dari masyarakat secara umum. Sehingga kekristenan pun akhirnya dapat tumbuh di tempat ini. Permasalahan utama yang dihadapi Paulus di daerah ini ialah adanya golongan yang kntra dengan Paulus dan keberatan/penolakan masyarakat Yahudi terhadapnya. Hal lain yang terjadi ialah adanya masyarakat non Yahudi yang takut untuk tidak mematuhi ketentuan Yahudi saat itu. Paulus mengambil sikap yang cerdik. Ia mampu membaca situasi dan menawarkan dialog sarta suatu pertemuan sehingga dapat dibicarakan permasalahan dalam konteks penyebaran kekristenan, meskipun ini bukanlah masalah yang sederhana; dibalik ini masih banyak maslaah yang belum diungkapkan, tetapi setidaknya ini mau memberikan gamabaran pelayanan Paulus ditengah masyarakat yang menolaknya walaupun bukan secara mentah. Dan di tempat ini Paulus mengajarkan perihal gereja yang mandiri.
Korintus[13]
Berbeda dengan Korintus, permaslaahan yang dihadapi ialah keadaan masayrakat yang memang kacau dalam hal normanya dan tantangan dari dalam tubuh gereja sendiri. Selain itu adanya Gnosis yang tersebar di daerah Korintus ini dan aliran ini cukup memiliki pengaruh terhadap jemaat di Korintus sendiri. Di disini Paulus megajarakan tentang kesatuan dan keselamatan didalam Kristus. Ia cukup tegas dan kritis mengahadapi setiap gerak gerik oposisinya dalam penyebaran kekristenan waktu itu yang dapat kita lihat dalam 1 Korintus maupun 2 Korintus. Ia tidak pernah putus semangat ditengah keadaan masyarakat yang demikian adanya. Masyarakat di Korintus yang sedikit bebal itu terlihat juga menaruh perhatian pada Paulus; terlihat dari corak perbedaan suratnya yang pertama dan kedua pada jemaat Korintus bahkan ada sumber yang mengatakan ada surat lain yang sempat ia tulis kepada jemaat di Korintus. Entah seberapa jauh peranannya tetapi indikator bahwa adanya kekristenan dan gereja disitu merupakan salah satu buah pelayanan Paulus.
Refleksi
Rasul yang cerdas merupakan ungkapan yang seharusnya memang diberikan kepada Paulus. Sejak pendidikannya di Tarsus maupun Yerusalem, Paulus merupakan seorang cendikiawan yang pintar, kamampuan analisis kritisnya juga dikatakan melampaui pemikiran yang ada saat itu. Ia senantiasa menanyaan dan mencari kebenaran. Dari sifatnya yang teguh dalam pendirian, tegas, peka terhadap situasi dan analitis merupakan modal penting baginya dalam sepanjang perjalanan misi yang ia lakukan. Bukan hanya cerdas secara intelektual tetapi ia juga cerdas secara spiritual. Hal ini terbukti dalam pengalamannya akan pertemuan dengan Tuhan dan cara bagaimana ia menjawab begitu banyak kontroversi dan permasalahan . Ia mau mendengar apa yang dikatakan Tuhan dalam misi penyebaran kekristenan.
Melihat perkembangan kekristenan dalam paper ini memang memiliki kecenderungan dari segi sang pemimpin atau pelopor, Paulus. Sebagai seorang pemimpin banyak hal yang dapat digali dari diri Paulus. Memiliki kemapuan kognitif yang baik, spiritualitas yang baik, tegas, teguh dalam pendirian, inovatif dan kretif, memiliki strategi yang bagus, pandai berkomunikasi, kritis dan aktif dalam tujuan yang hendak dicapainya, terakhir menurut penulis memepunyai tujuan. Hal ini hendaknya menunjuk pada sosok pemimpin yang ideal. Sekalipun patut disadari juga bahwa Paulus sebenarnya juga memiliki tidak sedikit kelemahannya.namun di zaman sekarang ini, sulit melihat adanya seorang pemimpin yang imbang anatara kemampuan kognitifnya dan kemampuan emosional-spiritualitasnya. Seorang pemimpin yang baik memberi pengaruh pada orang yang dipimpin. Dan pengaruh ini yang terkadang meberikan indikasi kesuksesan seseorang dalam memimpin. Jadilah pemimpin yang kritis dan bijaksana dalam berpikir dan bertindak.
Kekristenan dapat bertumbuh dengan pesat setelah abad pertama tak lepas dari peran penyebaran kekristenan yang dilakukan Paulus saat itu. Kekristenan yang menyebar bukan hanya pada satu suku bnagsa saja melainkan lebih holistik lagi. Bukan pada suatu kalangan tertutup tetapi pada kalangan yang terbuka. Tak memandang bagaimana kekristenan itu dipahami hanya satu golongan saja melainkan oleh seluruh golongan dalam kesatuan akan Kristus. Jika kita melihat zaman modern ini, banyak sekali denominasi gereja terkhususnya di Indonesia. jangankan dalam denominasi yang banyak itu, dalam satu sinode pun terkadang dan mungkin malah pasti ada perbedaan pola berkembang dan pemikiran yang terkadang bukan menyatukan dalam satu visi Kristus melainkan memecah. Hal ini sangat mengkin terjadi karena tujuan atau fokus yang ada dalam gereja seringkali bersifat polits dari pada memperhatikan kehendak Allah. Memang urusan duniawi memang penting adanya namun jangan dilupakan hal spiritualitas pun juga ada pentingnya, dalam hal ini melihat kasatuan dalam tubuh Kristus.
Ada satu slogan yang sering saya dengar dan itu manarik bagi saya; “kita semua teman, kita smeua saudara’ dari zaman PL samapai Pb; zaman Paulus pun juga dan sampai sekarang permasalahan kesatuan bukanlah hal yang berujung jelas. Tetapi kalau kita mau lihat dalam slogan ini sebenarnya yang dibutuhkan hanya rasa ketermilikian; sense of belonging- dan suatu sikap yang taka kalah penting yaitu keterbukaan sebagaimana Paulus membuka jalan akan penyebaran kekristenan bukan terpaut pada satu suku bangsa saja dan dapat menangkal berbagai pengaruh dari banyaknya aliran yang ada pada zaman itu dengan menekankan kesatuan dalam Kristus. Marilah kita memandang orang-orang disekitar kita sebagai teman sepelayanan, saudara sepelayanan dalam kasih ddan satu dalam tubuh Kristus. Air itupun masih mengalir. Pengaruh dan perkembangan kekristenan harus tau konteks dimana kekristenan itu hendak tumbuh. Sebenarnya perkembangan kekristenan dan penyebarannya ibarat suatu air yang mengalir, suatu proses yang senantiasa berjalan. Kita dalam setiap generasi kita memiliki rasa meneruskan karya Allah dalam dunia dengan cara apapun yang kita hidupi dalam panggilan kita masibg-masing. Itu merupakan aliran air yang akan terus mengalir selama kita mau menghidupinya.
Daftar Pustaka
________. Alkitab Terjemahan Baru dan New International Version, (Jakarta:LAI, 2009)
Cushman McGiffert, Arthur. A History of Christianity of the Apostolic Age, (Edinburg: T. &
T. Clark 38 George Street, 1897)
Luedemann, Gerd. Paul, Apostle to the Gentiles – Studies in Chronology, (Philadelphia:Fortress Press, 1984)
Wahono, Wismoady. Di Sini Kutemukan, (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2009)
Watson, Francis. Paul, Judaism and the Gentiles. (Cambridge: Cambridge University, 1986)
Weizsacker, Carl Von. The Apostolic Age of the Christian Church, (New York: G.P. Putnam’s Son & London: Williams and Norgate, 1894)
[1] Dalam penggambaran Lukas 10:1 dikatakan bahwa melaui Yesus Kristus ditunjuk 70 orang yang merupakan murid-murid lain dari padanya; yang bukan keduabelas rasul, kepada kota-kota dalam perjalanan pekabaran injil. Dimana pertumbuhan dan perkembangan kekristenan mula-mula berada dalam konteks Yunani-Romawi. Tetapi selain itu, ada beberapa sumber lain yang mengatakan bahwa pasca kematian Yesus; yang merupakan masa para rasul, juga ditemukan adanya pengaruh pekabaran injil di luar daerah Yunani-Romawi seperti daerah Mesir, Arab, Siria, dan Mesopotamia, lih. Wismoadi, Di Sini Kutemukan, (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2009) hal 458
[2] Arthur, A History of Christianity in the Apostolic Ages, (Edinburgh: T. & T. Clark 38 George Street, 1897), p. 113
[3] Arthur, A History of Christianity in the Apostolic Ages,p.114
[4] Wismoadi, Di Sini Kutemukan, hal 414
[5] Arthur, A History of Christianity in the Apostolic Ages,p.117
[6] Dalam Kis.9 dikatakan bahwa ia mengalami perjumpaan secara personal dengan Tuhan yang membuat pemikirannya dan apa yang ia percayai berubah secara total. Bahkan saat ia hendak dibaptis oleh Ananias pun dinarasikan Tuhan hadir dan akhirnya mengutus Paulus dengan keutuhan amanat personal Tuhan terhadap Paulus. Teks inilah yang seringkali dibuat bahan acuan tentang identitas kerasulan Paulus. Memang benar ia bukan saksi hidup dalam serangkaian perjalanan Yesus, namun ia mengalami kedekatan dnegan Yesus melalui perjumpaan personalnya dengan Tuhan. Dan perjumapaan ini seakan mendarahdaging dalam tubuh Paulus hingga ia benar-benar berani mengatakan ia memiliki tugas pelayanan seperti rasul.
[7] Carl Von W., The Apostolic Age of the Christian Church, (London:William and Nargote, New York: G.P Putman’s son 1894) p.95-96
[8] Perlu diingat kembali bahwa Yerusalem merupakan sentral kota yang sangat penting dalam memahami persebaran kekristenan mula-mula. Hal ini disebabkan karena Yerusalem merupakan pusat pekabaran injil dan pusat keagamaaan saat itu. Segala kebijakan yang berhubungan dengan kebijakan agama terkhususnya kekristenan bermuara pada titik sentral kota ini dan waktu itu kebijakannya dipegang oleh Bapa Rasuli.
[9] Francis Watson. Paul, Judaism and the Gentiles – a sociological approach, (Cambrige:Cambrige University 1986), p.52
[10] Berdasarkan keterangan dalam Alkitab Terjemahan Baru – New International Version, LAI (Jakarta:2009) dibandingkan dengan data kronologi dari buku Gerd Leudeman. Paul, Apostle to the Gentiles, (Philadelphia:Fortress Press, 1984) p.262-263 dan yang hendak dipaparkan disini bukanlah detail mengenai seluruh kehidupan pelayanan Paulus, namun hanya beberapa hal saja yang kiranya penting untuk diketahui dalam rangka melihat pengaruh Paulus dalam kehidupan kekristenan mula-mula
[11] Disarikan dari Wismoadi, Di sini Kutemukan, hal 426-443
[12] Disarikan dari Francis Watson. Paul, Judaism and the Gentiles – a sociological approach,p. 49-69
[13] Francis Watson. Paul, Judaism and the Gentiles – a sociological approach,p. 80-85
No comments:
Post a Comment