Ritual Keleman merupakan suatu ritual yang kini mungkin dapat lebih mudah dipahami sebagai ritual memohon hujan dan syukur atas tanah yang diberi Sang Pencipta bagi warga. Ritual oleh warga Desa Peniwen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Paper ini akan mencoba membahas ritual Keleman dari segi Antropologi Agama. Adapun pembahasan dalam paper akan mencoba mendekati bahasan dari perspektif antropologi; sekalipun nantinya ritual ini sendiri sedikit tidaknya menyangkut pada sisi teologis.
Ritual
Edisi pertama Encyclopaedia Britannica mengatakan bahwa ritual adalah sebuah panduan dan tata cara merayakan upacara-upacara religi, pelayanan dalam gereja, keuskupan dan lain sebagainya. Kita dapat menemui ritual dalam berbagai macam bentuk seperti upacara, liturgi, sihir, dan kombinasi dari semuanya itu.[1] Menurut S.J. Tambiah, ritual secara kebudayaan merupakan salah satu simbol komunikasi. Ritual merupakan gabungan antara kata-kata dan tindakan yang diekspresikan dalam berbagai macam media[2].
Ritual-ritual mempunyai banyak fungsi, baik dalam taraf individu maupun secara komunal. Ritual menghubungkan dan mengeksprsikan perasaan, pedoman dan tindak perilaku, menguatkan bentuk dari kebiasaan, mendukung atau menumbangkan status quo, membawa perubahan, mengembalikan keseimbangan dan harmoni. Ritual-ritual juga memiliki peran yang penting dalam penyembuhan. Ritual-ritual juga dapat digunakan untuk memelihara tenaga kehidupan dan kesuburan bumi, dan memastikan hubungan yang benar dengan dunia yang tak terlihat, apakah itu roh, roh nenek moyang, dewa-dewi atau kehidupan supranatural lainnya.[3]
Dalam suatu ritual dikenal suatu istilah rite of passage yang di dalamnya meliputi tiga hal; preliminal, liminal, dan postliminal. Tiga hal ini berkorelasi satu dengan lainnya, dan memiliki satu hubungan. Preliminal berarti pemisahan terhadap situasi atau tahap tertentu, liminal berarti transisi dari pemisahan ke penyatuan kembali dan postliminal berarti penyatuan kembali. Tetapi dalam suatu upacara ritual, tidak selamanya mempunyai urutan seperti diatas. Terkadang liminal langsung menyatu dengan dengan kedua tahap lainnya. Terkadang juga ada yang lengkap dalam tiga tahap seperti diatas. Itu tergantung pada jenis ritual yang diadakan.[4]
Apa tujuan ritual? Ritual sebagai kontrol sosial bermaksud mengontrol perilaku dan kesejahteraan individu demi dirinya sendiri sebagai individu ataupun individu bayangan. Hal ini semua dimaksudkan untuk mengontrol, dengan cara konservatif, perilaku, keadaan hati, perasaan dan nilai-nilai dalam kelompok demi komunitas secara keseluruhan. Ritual bisa ada faedahnya maupun tidak namun ritual harus memiliki makna dalam pelaksanaannya.[5]
Ritual Keleman di Desa Peniwen[6]
Pembahasan akan ritual Keleman tidak bisa dilepaskan dengan keadaan historis-kultural ritual itu ada, yaitu di Desa Peniwen dan sejarah dibelakangnya. Desa Peniwen merupakan suatu desa Agraris yang terletak di lereng Gunung Kawi daerah Malang Selatan. Desa ini mayoritas penduduknya Kristen atau lebih tepatnya 99% penduduknya Kristen dan 1% Katolik.[7] Namun keadaan ini sudah berlangsung sejak awal mulanya desa ini dibentuk, bahkan awal mulanya desa ini dapat dikatakan 100 % penduduknya Kristen. Hal ini dapat dimaklumi karena sejak babad alas, pembabad desa yang sekaligus pendiri desa yaitu Kyai Zakheus Laksanawi bersama 20 temannya menghendaki agar desa ini menjadi desa kristen. Dalam subyektifitas penulis, tradisi setempat rupanya sejak awal tidak ditinggalakan, dengan kata lain budaya setempat tetap dijalankan oleh seluruh penduduk warga baik dari awal mulanya sampai sekarang, tahun 2011. Hal tersebut terbukti dengan sedikitnya perubahan dari berbagai budaya di desa ini termasuk adanya dan pelaksanaanya ritual Keleman. Sekalipun ada bebarapa budanya yang memang nampaknya sudah dimaknai ulang berdasar kaidah agama kristen.
Ritual Keleman merupakan ritual yang sudah ada sejak tahun-tahun awal desa Peniwen di babad. Istilah babad[8] ini hendak menunjukkan keadaan dimana desa pertama kali terbentuk setelah beberapa orang pertama yang menginjakkan kakinya di hutan yang rimbun dan wingit; angker yang kemudian dibabad alias ditebang hutannya dan dibangun desa yang akhirnya dinamai Desa Peniwen.
Alas Peniwen dibabad oleh Kyai Zakheus Laksanawi bersama dengan 20 orang temannya pada hari selasa legi tanggal 17 Agustus 1880 yang akhirnya tak lama setelah itu berdirilah Desa Peniwen.[9] Pada awalnya desa ini hanya beranggotakan beberapa Kepala Keluarga saja yang terdiri dari keluarga pembabad alas. Para pembabad alas ini memiliki tujuan membuka lahan untuk penginjilan dan dibangunnya desa kristen. Dan memang tak lama kemudian dalam sejarah desa diceritakan bahwa beberapa orang yang mendiami daerah sekitar peniwen dibabtis dan menjadi Kristen.
Di awal kehidupan desa muncul beberapa permasalahan. Permasalahan yang utama yang dirasakan saat itu ialah tak kunjung datangnya hujan padahal wilayah Desa Peniwen secara letak geografisnya sangatlah bergantung pada hujan. Hampir seluruh wilayah desa waktu itu digunakan untuk kepentingan pertanian dan berladang sebagai penyokong kehidupan mula-mula warga desa. Sungguh sangatlah penting adanya air di desa ini bagi kehidupan warga desa, apalagi di desa ini sejak mulanya hanya ada sedikit sungai dan mata air. Faktor hujan sangatlah dibutuhkan oleh warga desa.
Permasalahan tidak datangnya hujan ini terus berlangsung, hingga pada bulan kesepuluh sejak berdirinya desa, Kyai Zakheus mengumpulkan seluruh penduduk desa untuk mengadakan rembug desa. Rembug desa merupakan acara kumpul bagi seluruh warga desa untuk membicarakan hal-hal yang menyangkut kehidupan bersama seluruh warga desa. Acara ini berlangsung layaknya suatu diskusi dan disepakati suatu keputusan bersama. Pada saat itu, berdasarkan arahan Kyai Zakheus munculah suatu keputusan yaitu akan diadakannya suatu ritual desa untuk memohon hujan. Ritual tersebut dinamai Keleman. Kata Keleman sendiri berasal kata kelem yang berarti basah dalam air. Dari asal usul katanya tersebut, ritual ini dimaksudkan agar nantinya hujun dapat turun ketanah di desa Peniwen yang sumbernya ialah dari Sang Pencipta. Secara tidak langsung ritual ini memiliki makna sebagai media permohonan warga Desa Peniwen kepada Sang Pencipta akan datangnya hujan.
Ritual Keleman dari awal mulanya sampai sekarang tidak banyak mengalami perubahan. Pada awal mulanya ritual diadakan oleh seluruh warga desa. Kepala Desa, yang pada waktu itu Kyai Zakheus menghimbau seluruh warga agar mengumpulkan encek. Encek merupakan 1 tatanan makanan berukuran 50 cm berisi 4 kotak yang terbuat dari pelepah pisang yang dibentuk kotak ditengahnya dipisahkan secara horisontal dan vertikal oleh bambu kecil. Encek ini diisi dengan 4 porsi makanan yang ditaruh dalam wadah yang terbuat dari kombinasi pelepah pisang dan daun pisang. Makanan yang ada ditaruh dalam wadah tersebut haruslah berisi nasi dan lauk; apapun itu bentuknya. Hal tersebut sebenarya merupakan simbol kalau kita hendak memohon berilah apa yang terbaik dari hasil kerja kita; dalam konteks mulanya hasil bumi pertanian atau berladang. Namun dewasa ini, dapat berbentuk makanan hewani dan lain sebagainya sesuai pertimbangan keluarga masing-masig.
| Pelepah Pisang yang dibentuk kotak |
| Belahan bambu yang dibuat menyilang sebagai penampang kotak |
Encek sekaligus merupakan simbol ucapan permohonan keluarga akan datangya hujan dan sekaligus syukur atas hasil tanah yang telah dituai oleh keluarga yang bersangkutan. Jadi tidaklah mengherankan bila biasanya makanan yang ada dalam wadah tersebut enak-enak. Encek yang berasak dar tiap keluarga nantinya akan dikumpulkan menjadi satu di balai desa yang akan digunakan dalam serangakaian ritual keleman.
Ritual keleman selalu diadakan di balai desa yang terletak tepat ditengah desa. Sebenanrnya ini juga merupakan suatu simbol yang hendak mengungkapkan bahwa ritual ini berada ditengah pusat desa agar Sang Pencipta benar-benar mendengarkan umatnya yang sedang menjalankan ritual tersebut. Ritual ini diadakan selalu tepat pada tanggal 30 Oktober, karena dianggap sebagai bulan terakhir masa kering tanpa hujan dimana hujan kelak turun dibulan berikutnya. Ritual dimulai ketika weluruh warga desa dianggap telah datang; biasanya diwakili oleh kepala keluarga.
Tiap kepala keluarga yang datang dipersilakan menyerahkan encek dan duduk bersila di tempat yang telah disediakan. Setelah itu semua diajak untuk berdoa bersama kepada Sang Pencipta. Doa ini cukup lama karena setelah tetua desa berdoa disusul oleh warga secara bersama-sama. Dalam doa bersana yang dipanjatkan ialah permohonan pada Sang Pencipta agar mendatangkan hujan bagi tanah di desa. Doa bersama usai, dilanjutkan dengan tetua desa yang menceritakan makna ritual keleman ini secara turun temurun sejak awal mulanya dibentuk oleh pendahulu desa (nenek moyang desa).
Di akhir jalannya ritual, semua warga dipersilakan mengambil kembali encek yang bukan miliknya yang pada awalnya telah dikumpulkan. Ini merupakan simbol bahwa permohonan yang telah disampaikan kepada Sang Pencipta akan dikabulkan dan dibawa kerumah masing-masing melalui encek dengan maksud diberkatinya keluarga yang bersangkutan bukan hanya atas keluarganya sendiri namun masyarakat desanya. Oleh karena itulah encek ditukar-tukar dan tidak diperkenankan mengambil encek miliknya sendiri. Dibalik ritual ini mengandung segi komunal. Dan dalam serangkaian ritual ini berlangsung, warga tak diperkenankan membuat bising atau berbicara sendiri agar suasanya sakral.
Refleksi – Pandangan Gereja terhadap Ritual Keleman
Sekilas ritual ini kurang magis kelihatannya, tetapi dalam pandangan subyektifitas penulis yang sejak kecil dan lahir di desa ini serta mengikuti ritual ini, warga selalu nampak hikmad dan syahdu dalam melaksanakan ritual ini. Mereka mempercayai bahwa dengan ritual ini memang akan datang hujan yang sesuai dengan kebutuhan pertanian di desa. Sekalipun sekarang ini, kita ketahui bersama bahwa musim seringkali bergeser namun tetap terlihat tidak mempengaruhi apa yang telah dipercayai oleh warga. Satu hal lagi yang tak terlupa bahwa dalam pelaksanaannya ritual ini dipenuhi dengan pemaknaan akan simbol-simbol yang sebenarnya akan dijelaskan oleh tetua desa di setiap dijalankannya ritual. Hal ini bertujuan agar pemaknaan ini sampai kepada generasi yang mungkin tidak tau-menau tentang ritual ini dan maksud penyelenggaraannya. Makna inti dan barang tentu juga merupakan makna asli dari ritual ini ialah permohonan Kepada Sang Pencipta akan datangnya hujan dan sebagai suatu pengharapan bagi kelangsungan kehidupan tumbuhan di tanah yang telah diberi Sang Pencipta dan kelangsungan kehidupan mereka manusia, (keseimbangan kosmis).
Gereja dalam konteks ritual ini ada yaitu Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Peniwen memiliki pandangan yang positif terhadap adanya ritual Keleman. Jemaat GKJW Peniwen pun juga melaksanakan ritual ini sekalipun memang sekarang ini ritual ini terlebih ditujukan pada Allah sebagai Sang Pencipta alam semesta. Artinya dari yang semula dalam buku sejarah desa atau dari tinutur[10] tetua desa bahwa itu ditujukan pada Sang Pencipta yang terlihat Universal sekarang kepada Allah sebagai pemaknaan dalam pandangan Kristiani. Hal ini tentunya dikarenakan desa ini dapat dikatakan 100% jemaat kristennya yang merupakan 99% jumlah warga desa berasal dari satu denominasi gereja yaitu GKJW Peniwen, dan memang dari awalanya gereja ini sudah terbentuk tak jauh dari ritual ini terbentuk. Oleh karena itu, bisa memiliki pandangan positif akan adanya ritual ini.
Daftar Pustaka
- Bowie, Fiona. 2000. The Anthropologi of Religion. Oxford: Blackwell.
- Dhavamony, Mariasusai. 1995. Fenomenologi Agama. Yogyakarta:Kanisius.
- Widyana ,Susya. 2000. Sejarah Desa Peniwen. Peniwen.
[1]Fiona Bowie, The Antropologi of Religion (Oxford: Blackwell, 2000), hlm. 155-157
[2] Fiona Bowie, The Antropologi of Religion, hlm. 155
[3] Fiona Bowie, The Antropologi of Religion, hlm. 151
[4] Fiona Bowie, The Antropologi of Religion, hlm. 162-163
[5] Mariasusai dhavamony.Fenomologi Agama.hal 174-175
[6] Ditulis Penulis berdasarkan wawancara dengan tetua Desa Peniwen, Bapak J.S Suwarso dan dari buku Sejarah Desa
[7] Berdasarkan data statistik Desa Peniwen yang tercatat terakhir tanggal 16 Maret 2011
[8] Babad disini memiliki arti menebang hutan yang masih belum berpenghuni atau miliki bebas
[9] Susya Widyana, Sejarah Desa Peniwen, (Peniwen, 2000), hal 2
[10] Istilah dalam bahasa jawa yang kurang lebih apabila dibahasakan indonesia artinya nasehat sekaligus perkataan yang bermakna yang terjadi dalam dialog secara langsung