Search This Blog

Saturday, February 18, 2012

Tinjauan terhadap Buku “Mengimani Allah Tritunggal” Halaman 15-73[1]

Suatu Etika Hidup Sosial Kristen dari perspektif Trinitarianisme

Barangkali sempat dipertanyakan; Mengapa belajar Trinitarianisme dalam diskusi Etika atau mengapa Trinitarianisme hendak dibahas dalam diskusi Etika serta hubungan apa yang menghubungkan keduanya? Tinjauan ini akan diuraikan berdasarkan pertanyaan yang sempat muncul sebelum dan saat peninjau membaca buku “Mengimani Allah Tritunggal”.

Konsep Trinitarian atau yang lebih akrab dikenal sebagai konsep Allah Tritunggal bukanlah hal yang asing lagi ditelinga, apalagi bagi khalayak kristen umumnya. Bukan hal yang asing pula, bilamana konsep Allah Tritunggal ini dibicarakan secara dogmatis. Ketertutupan dalam alam pikiran dogmatis membawa kebingungan bagi orang kristen awam atau masih juga bagi orang kristen dengan background pendidikan yang cukup ketika hendak memasuki pembahasan akan Allah Tritunggal. Problem dalam konsep ini selalu berkutat pada keesaan; ke’satu’an dan keberagaman; ke’tiga’an, itulah konsep yang cukup membingungkan. Membingungkan bukan berarti tanpa suatu usaha untuk menjelaskan konsep ini, secara dogmatis atau hal lain yang dianggap merupakan pendekatan yang kurang dogmatis. “Mengimani Allah Trituggal” merupakan satu buku dari sekian buku dengan tema Allah Tritunggal yang awal pembahasannya dimulai dengan beberapa upaya dalam menjelaskan konsep Allah Tritunggal ini dengan harapan kebingungan yang berada dalam konsep itu sendiri dapat mulai terbuka dan terjelaskan.

Sebagai suatu upaya menjelaskan konsep Allah Tritunggal ada beberapa model umum pendekatan yang dibahas. Beberapa pendekatan itu berkisar pada; pendekatan teks, pendekatan metaforik, dan pendekatan relasional. Pendekatan teks mencoba melihat konsep Allah Tritunggal dalam terang Alkitab; perspektif Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang membahas akan konsep Allah Tritunggal. Pendekatan Metaforik yang saya maksudkan disini ialah suatu upaya menjelaskan konsep Allah Tritunggal melalui jalan perumpamaan secara langsung maupun tak langsung. Dalam buku ini beberapa penggambaran konsep Alah tritunggal tergamabarkan dalam perumpamaan tarian (perichoresis), lilin dan cahaya. Pendekatan ketiga yang turut serta dalam pembahasan buku ini ialah yang saya namakan sebagai pendekatan relasional dalam artian konsep Allah Tritunggal dijelaskan sebagai suatu relasi antara Bapa (Allah), Putera (Yesus), dan Roh Kudus. Konsep relasi yang dipakaiini ada dalam bentuk comunio dan relasi cinta. Rupanya Gisbert lebih condong menyetujui upaya dalam menjelaskan konsep Allah Tritunggal dalam pendekatan relasional. Hal ini memungkinkan, dapat dikarenakan pendekatan ini lebih tidak jatuh dalam penjelasan yang bersifat dogmatis dan akan lebih mudah dijembatani kebingungan antara keesaan dan ketigaan dalam konsep Allah Tritunggal.

Di mana dua pihak…..saling berangkulan dalam cinta timbal balik dan setiapnya menemukan kenikmatan tertinggi dalam cinta timbal balik tersebut, disitulah puncak kegembiraan justru terletak dalam cinta paling dalam dari partner, dan sebaliknya; puncak kegembiraan partner tadi dalam cinta dari pihak pertama. Namun selama pihak pertama dikasihi secara eksklusif oleh pihak kedua, maka ia tetaplah pemilik tunggal kenikmatannya, demikian juga pihak kedua itu. Sejauh mereka tidak memiliki, pihak lain yang turut dicintai, maka kegembiraan paling manis dari setiap pihak tidak dapat dinikmati bersama. Agar keduanya dapat mengkomunikasikan kegembiraannya, mereka membutuhkan pihak yang turut dikasihani.” (Rikhard)[2]

Kutipan diatas merupakan upaya menjelaskan konsep Allah Tritunggal dalam suatu hubungan relasional yaitu cinta. Pihak pertama digambarkan sebagai Allah, pihak kedua sebagai Yesus dan perantara keduanya yang ada dalam satu ikatan cinta itu ialah Roh Kudus.

Kalau bukan sebagai suatu penjelasan yang dogmatis berarti konsep ini diharapkan dapat mendarat bagi kehidupan iman manusia, sebagaimana yang penulis buku utarakan. Ya! Karena cinta dalam Tritunggal itu bukanlah cinta yang eksklusif, manusialah pihak yang diberi kasih, cinta itu oleh Allah. Manifestasi iman dalam konsep Allah Tritunggal adalah sesuatu yang dinamis. Gamabaran akan Allah dalam konsep ini selaras dengan gambaran manusia akan Allahnya; MahaKasih. Manusia dan Allah ada dalam suatu hubungan persekutuan dalam keberagaman karena Ia bukan hanya suatu keesaan namun juga ketigaan, seturutlah manusia hidup dalam persekutuan ditengan keberagaman dan ini dilihat sebagai “specificum christianum” yang memang tergambar sejak kehidupan awal kekristenan. Konsep comunio atau persekutuan yang diahas lebih lanjut ini mempengaruhi kehidupan manusia dengan manusia dan dengan Allahnya itu.

Dilihat dengan cara demikian iman akan Trinitas sama sekali bukan teoritis belaka namun juga dalam segi praktis kehidupan. Iman seperti itulah yang menurur Gisbert Greshake dapat menjadi landasan teori bagi etika hidup sosial dan kesetiakawanan yang bertahan ditengah kesulitan. Macam etika yang rupanya dapat menjawab pertanyaan yang mencul pada permulaan tinjauan ini mungkin sudah mulai jelas terbuka sekarang tinggal mengapa perspektif dari konsep Trinitas dihubungkan dalam etika hidup sosial?

Manusia pada satu pihak adalah individu yang dikaruniai kebebasan dan pada pihak lain merupakan anggota persekutuan manusiawi, dengan banyak cara berhubungan dengan yang lain dan hanya bersama dengan mereka sungguh menjadi manusia.[3] Namun sebagai makhluk rohani ia dicirirkan dengan refleksi diri. Refleksi pada dirinya tidak lepas dari kebebasan yang ia miliki dan persekutuan yang ia berada didalamnya. Seiring dengan itu, gambaran Allah mucul dalam setiap pengalaman yang mencirikan refleksi manusia atas realitas yang tengah ia bangun dan alami. Manusia bisa saja tidak kolektif cenderung berpijak pada diri sendiri namun ia bukan lagi mencirikan manusia yang relasionalitas. Dalam kehidupan sosialnya manusia membutuhkan relasi dengan manusia yang lain. Relasi ini tidak jauh daripada bimbingan Allah menurut refleksinya sebagai makhluk rohani. Konsep Allah ini juga tak jauh dari konsep Allah Tritunggal khusunya dalam umat kristiani yang tidak hanya teoritis dogmatis namun berdinamika dalam pertumbuhan iman manusia. Manusia yang satu dengan yang lainnya terhubung dalam suatu ikatan cinta sebagaimana Allah sebagai pihak yang memberikan cinta yang bukan eksklusif pada diriNya tetapi secara universal bagi ciptaanNya manusia. Cinta yang menghubungkan manusia ini nyata dalam suatu tataran persekutuan.

Diakhir tinjauan ini, saya mengira bahwa salah satu etika hidup sosial kristiani bersumber pada kasih Allah yang memberi hidup pada ciptaanNya. Tentunya hal tersebut dalam suatu tataran relasional manusia dengan Allah. Namun kembali lagi bahwa manusia menjadi manusia ketika ia hidup bersama, ada bersama dengan manusia lain baiklah melalui persekutan. Dari sini pula, manusia tidak dapat dikatakan bisa berdiri sendiri tanpa melihat manusia lain, termasuk dalam permasalahan realitas yang sedang terjadi.



[1] Greshake, Gisbert. 2003. Mengimani Allah Tritunggal. Maumere: Penerbit Ledalero.

[2] Kutiapan Rikhard yang dikutip kembali oleh Gisbert Greshake dlam buku “Mengimani Allah Tritunggal

[3] Greshake, Gisbert. 2003. Mengimani Allah Tritunggal. Hal 50

1 comment:

  1. Shalom bapak, ibu saudara/i di manapun berada. Apakah Sudah ada yang pernah mendengar tentang Shema Yisrael? Ini adalah kalimat pengakuan iman orang Yahudi yang biasa diucapkan pada setiap ibadah mereka baik itu di rumah ibadat atau sinagoga maupun di rumah. Yesus juga menggunakan Shema untuk menjawab pertanyaan dari seorang ahli Taurat mengenai hukum yang utama. Kita dapat baca di Ulangan 6 ayat 4 dan pernah juga dikutip oleh Yesus di dalam Injil Markus 12 : 29. Dengan mengucapkan Shema, orang Yahudi mengakui bahwa YHWH ( Adonai ) Elohim itu esa dan berdaulat dalam kehidupan mereka. Berikut teks Shema Yisrael tersebut dalam huruf Ibrani ( dibaca dari kanan ke kiri seperti huruf Arab ) beserta cara mengucapkannya ( tanpa bermaksud untuk mengabaikan atau menyangkal adanya Bapa, Roh Kudus dan Firman Elohim yaitu Yeshua haMashiakh/ ישוע המשיח, yang lebih dikenal oleh umat Kristiani di Indonesia sebagai Yesus Kristus ) berikut ini

    Teks Ibrani Ulangan 6 ayat 4 : ” שְׁמַ֖ע ( Shema ) יִשְׂרָאֵ֑ל ( Yisrael ) יְהוָ֥ה ( YHWH [ Adonai ] ) אֱלֹהֵ֖ינוּ ( Eloheinu ) יְהוָ֥ה ( YHWH [ Adonai ] ) אֶחָֽד ( ekhad )


    Lalu berdasarkan halakha/ tradisi, diucapkan juga berkat: ” ברוך שם כבוד מלכותו, לעולם ועד ” ( " barukh Shem kevod malkuto, le’olam va’ed " ) yang artinya diberkatilah nama yang mulia kerajaanNya untuk selama-lamanya " ). Apakah ada yang mempunyai pendapat lain?.
    🕎✡️👁️📜🕍🤴🏻👑🗝️🛡️🗡️🏹⚖️☁️☀️⚡🌧️🌈🌒🌌🔥💧🌊🌬️🏞️🗺️🏡⛵⚓👨‍👩‍👧‍👦❤️🛐🤲🏻🖖🏻🌱🌾🍇🍎🍏🌹🐏🐑🐐🐂🐎🦌🐪🐫🦁🦅🕊️🐟🐍₪🇮🇱⛪

    ReplyDelete